Proyek Penasaran

Selasa, 16 Mei 2017 | 18:14 WIB

JIP - Lahirnya Toyota FJ40 dengan format suspensi independen ini, berawal dari rasa penasaran. Siswanto berpikir, mengapa kendaraan ini citranya harus handal di medan off-road saja? “Saya kepengin juga handal dipakai di jalan aspal, dalam artian, lebih enak dikendarai dan handling enak,” ucapnya.

Untuk mewujudkannya, pasti tidak bisa mengandalkan konstruksi FJ40, yang didesain rigid dengan gardan solid. Konstruksi seperti ini memang paling pas buat off-road, tapi punya keterbatasan di permukaan aspal.

Inspirasi Siswanto pun timbul lewat tunggangan anak gadisnya. Ari ‘Rierie’ Christiani beberapa tahun terakhir yang aktif ikut dalam kompetisi off-road, mengharumkan team Dewi Sakti, membesut UTV lansiran Polaris. Berbekal suspensi Independent Front Suspension (IFS) dan Independent Rear Suspension (IRS), “Anak saya dapat dengan mudah menguasai UTV,” ucap sang Ayah.

Memang jenis suspensi independent, sangat ideal dipakai berkendara dan memberikan efek handling lebih baik. Karena itu, pada kendaraan daily akan lebih nyaman dengan format suspensi ini.  Siswanto pun mencari cara, supaya FJ40 bisa punya suspensi serupa.

Tidak mau risiko gagal, dia pun menghindari kaki-kaki custom. “Saya pilih kanibal dari suspensi kendaraan yang dasarnya sudah independen,” jelas pria yang juga hobi koleksi burung ini. Dua buah kepala Toyota Hilux Surf pun harus jadi ‘korban’.

Dua buah half-cut moncong Hilux Surf, lengkap dengan sasis, suspensi dan mesin pun dicomot. Dua bagian kepala Hilux Surf ini digabung jadi satu. Agar bersatu, tunggangan Siswanto ini harus ditambal dengan pelat tebal, agar dua sasis tersebut bisa bergabung. “Demi dapat suspensi independent, he he he,” cengirnya.

Imbas dari penggabungan dua sasis tersebut, bodi FJ40 jadi tidak proposional, tidak enak dilihat. Karena penggabungan tersebut menambah panjang wheelbase sekitar 10 centimeter. Agar bisa proposional dengan wheelbase yang lebih melar, bodi pun dipanjangkan pada bagian tengah.

Bagian ‘Kepala’ yang akan beralih fungsi jadi buritan FJ40, harus mengalami penyesuaian. Terutama pada sektor kaki, karena yang tadinya memiliki sistem kemudi harus dihilangkan. Sebenarnya tie rod dan long tie rod asli tetap digunakan, namun drag link yang akan terhubung dengan rumah setir dimatikan ke sasis.

Benar saja, ide penggabungan kepala Hilux Surf untuk jadi konstruksi FJ40, menjawab rasa penasarannya. Siswanto pun mendapatkan yang dia inginkan, tunggangannya ini jadi lebih enak dikendarai, suspensi nyaman, dan handling lebih mantap. “Jadi sering pakai buat harian, padahal ada SUV lain, tapi pakai yang satu ini lebih memuaskan,” tutupnya.Rindra P / Kodjang

Spesifikasi Teknis

Editor : inne
loading
SELANJUTNYA INDEX BERITA