Harga Terkini Toyota Fortuner November 2022, Varian 4x2 2.4 G Dijual Segini

GBRN - Selasa, 8 November 2022 | 12:00 WIB

Toyota Fortuner 2.8 (GBRN - )

Toyota Fortuner 4x2 2.8 VRZ A/T DSL Rp 606.200.000

Toyota Fortuner 4x2 2.8 GR SPORT A/T DSL  Rp 624.950.000

Toyota Fortuner 4x4 2.8 GR SPORT A/T DSL  Rp 715.350.000

Toyota Fortuner 4x4 2.8 GR SPORT A/T DSL (TWO TONE) Rp 720.350.000

Toyota Fortuner 4x4 2.8 GR SPORT A/T LUX  Rp 719.143.000

Mau Ganti Common-rail Toyota Fortuner? Segini Harganya 

Bimo SS
Toyota Fortuner
 

Mobil-mobil dengan diesel modern sudah menggunakan teknologi common-rail.

Mesin diesel common-rail lebih bertenaga namun irit bahan bakar berkat tekanan bahan bakar yang sangat tinggi, pengabutan sempurna, sehingga mendapat kinerja mesin diesel yang maksimal.

Mesin diesel common-rail ini menggunakan injektor untuk proses pengabutan dan tekanan bahan bakar ke ruang mesin yang diatur oleh ECM (Engine Control Module).

Nah celakanya, penggunaan bahan bakar dengan kualitas buruk dapat memperpendek umur common-rail.

"Untuk diesel common-rail dianjurkan menggunakan Pertamina Dex atau setingkat dengan angka cetane kurang lebih 55, berbeda dengan mesin diesel konvensional cukup dengan angka cetane kurang lebih 44," terang Erwin Surianto, kepala bengkel Auto2000 Pasar Kemis Tangerang.

Baca Juga: Segini Akselerasi Toyota Fortuner 2.8 4x4, Lebih Kencang dari Pajero Sport?

Meskipun sudah memiliki filter solar, Erwin menjelaskan untuk penggunaan bahan bakar diesel kualitas rendah dalam pemakaian jangka panjang, dampaknya bisa merusak sistem common-rail.

"Rusaknya komponen yang ada pada sistem common-rail, seperti supply pump dan sistem injeksi, yang tentunya akan berakibat pada biaya perbaikan atau penggantian spare part yang cukup tinggi," terangnya.

Untuk harga common-rail Toyota Fortuner di bengkel resmi Auto2000 seharga Rp 7.750,000, sama seperti Toyota Kijang Innova.

Untuk mengetahui sistem common-rail yang bermasalah di mobil Toyota, diindikasikan dengan indikator engine di combination meter yang menyala.

"Sistem common-rail berbeda dengan sistem konvensional, sistem common-rail minim sekali komponen mekanikal, sehingga komponen yang bermasalah biasanya tidak akan mudah diketahui hanya dengan melihat kondisi fisik saja, harus discan dahulu", tutup Erwin Surianto.